Jika saya berbuat sesuatu untuk berharap pengakuan, pujian atau penghargaan dan pertolongan dari orang lain, berarti Tuhan saya adalah manusia atau mahkluk. Tapi jika bukan karena itu, tapi untuk diri saya sendiri, berarti Tuhan saya adalah hawa nafsu saya sendiri. Jika tak satu pun dari keduanya, berarti saya tak sadarkan diri. Tapi jika apapun yang saya lakukan, hanya saya tujukan untuk Tuhan, maka baru Tuhan saya benar benar Tuhan. Tapi itu yang maha sulit. Jika mudah, tentu semua orang akan beriman dan terhubung dengan Tuhannya.
Jika hati kita memang condong pada pencitraan diri, maka basa basi, kepura-puraan, kemunafikan dan sejenisnya akan otomatis menjadi pakaian kepribadian kita. Mau dipoles, dibelokkan dan ditutup dengan cara apapun, isinya akan tetap sama. Tak kan beranjak dari dusta. Dan itu termasuk salah satu jenis penyakit hati, yaitu ambisi untuk bermegah-megah diri dan riya atau gila pamer.
Komentar
Posting Komentar